si Kecil Amien Rais


Amien Rais


Sore yang indah. Seperti biasa sepulang dari Madrasah Manbaul Ulum Amien Rais kecil kelihatan lapar. Keasikan belajar dan bermain dengan teman membuatnya melupakan rasa lapar. Hal ini baru terasa ketika dia sudah sampai rumah. Kesibukannya belajar di SD Muhammadiyah 1 Surakarta dan Madrasah Manbaul Ulum di sore hari cukup memeras otak dan tenaganya. Tapi karena didikan orang tuanya, khususnya Sudalmiyah ibunya. Membuat dia terbiasa bahkan menikmati pelajaran di kedua Lembaga pendidikan tersebut.
“Lapar banget ni, Bu. Ada makanan nggak?” Tanya Amien pada ibunya.
“Tuh ada tempe nasi dan tempe bacem,” sahut ibunya sambil melipat baju.
Alhamdulillah,” kata Amien sambil mengambil piring dan entong. Dia memang terbiasa tidak pilih-pilih makanan. Karena apa yang dimasak ibunya terasa lezat.
“Bagaimana ngajimu, le?” tanya ibunya.
“ya, begitulah, Bu. Biasa tapi insya Allah lancar. Hehe,” Sahut Amien sambil  duduk makan.
Le, belajar yang rajin. Jangan kayak mbahmu. Bapakku. Beliau kecewa kenapa tidak dari dulu-dulu belajar agama. Untung masih diberi nikmat Allah sehingga bisa masuk Islam,” kata ibunya.
“Eh. Katanya mbak kakung aktivis Muhammadiyah, Bu?kok ibu bilang tua baru masuk Islam?”tanya Amien sambil menghentikan makannya.
Mbah kakungmu memang pendiri Muhammadiyah di Gombong. Semua orang tahu Sukiman Wiryo Sudarmo. Tapi aslinya dia itu orang Abangan. Sejak muda dia bergaul dan berguru dengan pada ahli kebatinan, belum salat. Syukur alhamdulillah. Suatu pagi sehabis salat subuh mendengar ceramah H. Ahmad Dahlan di Jakarta,” kata ibunya Panjang lebar.
Amien yang sejak tadi duduk sambil mengunyah nasi menghentikan makannya. Dia tertarik dengan kisah kakeknya. Sepengetahuannya keluarganya adalah orang-orang Muhammadiyah yang taat.
“ Bu, bisa cerita bagaimana mbah kakung mau salat?”, tanya Amien.
“ Ya begitu, mbahmu sejak mudah senang ilmu kebatinan dan kanuragan. Sampai tua pun masih menganutnya. Bahkan kesaktiannya tidak hanya ditakuti manusia, bangsa jin pun juga takut. Pernah ada tetangga yang kerasukan. Tiba-tiba dia teriak ketika mbahmu mau datang. Padahal belum sampai rumah orang yang kesurupan itu. Dia ketakutan dan menyebut agar mbahmu Sukiman jangan sampai datang. Akhirnya benar mbah kakung datang dan memegang orang yang kesurupan itu. Jinnya ketakukan akhirnya orang tersebut tersadar,” cerita ibunya.
“lho itu kan nggak boleh mempercayai seperti itu, Bu?” tanya Amien penasaran.
“Itu dulu le, akhirnya mbahmu juga sadar, dan mau mengerjakan salat. Sudah lanjutkan makanmu!”, ibu mau persiapan salat Magrib.
“Iya Bu,” jawab Amien dengan tunduk. Setelah selesai dia membawa p tempat makannya ke pawon kemudian pergi ke mushola bersiap-siap salat magrib.
#onedayonepost 
#ReadingChallengeOdop 
#Tugaslevel2
#level2tantangan2


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku Pemikiran Pendidikan Islam

Tatar Sunda "The Lost Atlantis"