Tatar Sunda "The Lost Atlantis"




Peninggalan Tradisi Megalitik di Gunung Salak Bogor

          Mungkin orang -termasuk saya- berkata bahwa kerajaan tertua di Indonesia kerajaan Kutai. Tapi Fakta berkata lain. Pendapat itu sudah mulai ditepis dengan berbagai temuan
Kismi Dwi Astuti, wartawan Harian Pikiran Rakyat, bercerita bahwa kondisi Situs Megalitikum Cibalay atau yang lebih dikenal sebagai Situs Salaka Domas/Arca Domas di Kampung Cibalay Desa Tapos 1, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, adalah satu di antara sekitar 120 situs peninggalan sejarah dan prasejarah (purbakala) yang ada di Kabupaten Bogor yang belum diteliti secara optimal. Akibatnya, keberadaannya   kurang   terkenal   dan   membanggakan,   padahal nilainya sangat berharga dan sangat dihargai oleh negara lain.
Senada hal tersebut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bogor, Rudy Gunawan di sela-sela acara Bebersih dan Sarasehan yang digelar di Situs Megalitikum Cibalay atau yang lebih dikenal sebagai Situs Salaka (Arca) Domas Tenjolaya, Kampung Cibalay, Desa Tapos 1, Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Minggu (29/1/2011).
Menurut dia, 120 situs yang ada di wilayah Kabupaten Bogor itu letaknya tersebar di sejumlah kecamatan yang ada, seperti Cibungbulang, Tenjolaya, Cariu, dan Cigombong. Diakui Rudy, ke-120 situs yang sangat berharga itu sampai sekarang belum bisa dikelola dengan baik sehingga belum bisa menjadi wisata  budaya. ―Bisa dilihat dan  dirasakan sendiri, akses jalan menuju lokasi situs itu kebanyakan sangat buruk sehingga agak sulit dijangkau oleh wisatawan,kata Rudy.
Hal itu pula yang menyebabkan situs berharga yang menjadi incaran penelitian orang luar negeri dan peneliti budaya/sejarah kita belum menjadi kebanggaan.Situs ini sendiri ditemukan sejak tahun 1989 lalu dan sampai saat ini belum ada penelitian yang  optimal terkait keberadaan situs yang   kemungkinan   masih   berhubungan   dengan   Situs   Gunung Padang di Cianjur.
Kondisi situs memang masih terawat dan dalam kondisi baik. Ditemukannya tiga situs punden berundak di areal situs Cibalay di   Kampung   Cibalay,   Desa   Tapos   1,   Kecamatan   Tenjolaya, Kabupaten Bogor, mengundang perhatian Wakil Bupati Bogor (2011) Karyawan Fathurachman dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kabupaten Bogor Adrian Arya kusumah. Dengan mengajak Sejarawan-Budayawan Bogor, Ahmad Yanuana Samantho, dan sejumlah warga Bogor dari berbagai komunistas, mereka  mengunjungi  situs  itu,  Minggu  (1  May  2011)    yang  lalu. Ketiga   situs  baru  peninggalan   zaman   megalitik   itu   ditemukan petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang, Provinsi Banten.
Sebagai langkah awal berupa peninjauan lokasi  dan  setelah itu akan terus dilakukan pencermatannya,‖ kata Karyawan Faturahman, kemarin.   Staf   BP3   Serang   Banten,   Komaralana,   menjelaskan, punden berundak tersebut ditemukan di tiga titik di areal tak jauh dari Situs Cibalay. Saat ditemukan kondisinya dalani keadaan terhalang oleh semak belukar, temasuk beberapa menhir dan batu dolmen. Punden tersebut terbuat dari bahan Puslite dan bahan balaran.‖Temuan punden berundak yang terletak di sebelah selatan situs Cibalay itu dipastikan bekas anak tangga menuju area peribadatan suci pada masa  zaman purba megalitik,‖ terangnya.
Situs megalitik Cibalai di wilayah Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Situs yang diperkirakan berasal dari masa 4.000 tahun lalu itu berada di kaki Gunung Salak. Sejumlah budayawan Bogor beserta ratusan anggota beberapa organisasi masyarakat dan komunitas,    aparatur Pemerintah Kabupaten Bogor pada hari Minggu 29 Januari 2012 telah menggelar sarasehan terbuka tentang budaya di Situs Megalitik prasejarah di Desa Cibalai, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Tidak  hanya  itu,  di  area  tersebut  dapat  dipastikan  terdapat bekas hunian pemukiman dan lahan pertanian sawah purba, pada masa  megalitikum.  ―Karena cakupannya  begitu   sangat  luas,   jadi pasti masih banyak lagi situs-situs  lainnya di areal  tersebut,‖ imbuhnya. Bahkan, lanjutnya, jika dalam sebulan ini pihaknya berhasil  membuka  semak  belukar  yang  menutupi  seluruh  area hingga  ke  atas  Gunung  Salak,  maka  pihak  BP3  beserta  Dinas Purbakala pusat akan  melakukan ekskavasi. Sejauh ini,  kita  hanya baru bisa membuka sebagian semak yang menutup pada ketiga punden. Kemungkinan setelah kita merambah hingga ke puncak Gunung Salak maka akan terus bertambah jumlahnya,‖ ungkapnya.

Situs Cibalay di Bogor, Buktikan Temuan Arysos
Santos Tentang “The Lost Atlantis”

Mei 2011 melaporkan:   Situs Cibalay yang diduga berpenanggalan usia minimal 500 tahun sebelum Masehi yang ditemukan baru-baru.
6 Anthony Lee, Kompas.com
ini, merupakan salah satu situs yang penting untuk membuktikan temuan Profesor Arysos Santos tentang The Lost Atlantis. Hal ini dikemukakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor Adrian Kusumah kepada bogor-kita.com di ruang kerjanya Kompleks Tegar Beriman, (Kantor Pemda Kabupaten Bogor), di Cibinong Bogor, Rabu (6/5/2011).Situs Cibalay, kata Adrian, diduga berusia 500 tahun sebelum Masehi. Lebih tua dari Situs Tapak Gajah (Kebon Kopi Ciampea Bogor) yang berusia 300 tahun
sesudah Masehi. Situs Cibalay bahkan   lebih   tua   dibanding situs berupa bakal piramid Gunung Padang yang berada di Cianjur   yang   diduga   berusia 300 tahun sebelum masehi.
 Situs  Cibalay  yang  berada di   Tenjolaya,   imbuh   Adrian, diduga berupa tempat peribadatan masyarakat Bogor yang ketika itu masih menganut Paham spiritual Sunda Buhun/Sunda Wiwitan.
 Adrian mengemukakan, temuan Situs Cibalay yang pernah diteliti oleh ahli Belanda tahun 1914, berpotensi membalik bukan saja sejarah Indonesia, tapi juga sejarah dunia. Hal ini tentu saja apabila dirujuk pada temuan Profesor Arysos Santos  tentang  The Lost Atlantis. Atlantis menurut Santos adalah sebuah peradaban imperium benua yang berpusat di Indonesia dan sekitarnya. Wilayah ini dalam penggambaran Santos adalah sebuah wilayah yang peradabannya sangat modern. Wilayah ini tenggelam beserta kebudayaannya yang maju,  menyusul mencairnya es di kutub yang membanjiri seluruh pesisir Planet bumi.
 Sahabat Prof Arysos Santos yang juga peneliti buku The Lost Antlantis, Dr Frank Joseph Hoff pada Oktober 2010 lalu datang ke Bogor dalam sebuah Konferensi Internasional bertajuk Reinventing Sunda  di Hotel Salak Kota Bogor. Dr Frank  Joseph Hoff kepada Bogor-kita.com ketika itu mengatakan akan melakukan penelitian lebih lanjut mengenai temuan Santos yang diyakininya adalah tanah Sunda.
Kata Joseph ketika  itu. Selain Dr Frank Joseph Hoff, dalam konferensi itu juga hadir Prof. Dr. Stephen J. Oppenheimer yang menulis buku Eden In The East.  Prof Oppenheimer yang melakukan penelitian struktur DNA manusia di seluruh dunia dengan tegas menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan The Lost Atlantis adalah ada di Sundaland.
Adrian   mengemukakan,   Situs Cibalay   akan   menjadi   situs penting bila Joseph ingin melanjutkan penelitian. Demikian laporan Petrus Barus, dari Bogor-Kita.Com
Konferensi internasional tentang Budaya dan Peradaban Sunda Kuno itu memang telah penulis (saya Ahmad Yanuana Samantho) rancang dengan membuat proposalnya dan mengundang para Nara Sumber Pembicara dari dalam negeri maupun luar negeri. Lalu dibantu oleh rekan senior saya, Ir. Oman Abdurahman, MT mengusulkannya  kepada  Pemerintah  Propinsi  Jawa  Barat,  dalam Hal ini kepada Kepala Dinas Parawisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Propinsi Jawa Barat, yang langsung mendapat dukungan  penuh  dari  Gubernur  Jawa  Barat  dan  Wakil  Gubenur Dede  Yusuf  dari  pemerintah  Propinsi  Jawa  Barat,  yang alhamdulillah terlaksana pada tanggal 27-30 Oktober 2010.
#Level 3
#Tantangan2 RCO
#ODOP


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku Pemikiran Pendidikan Islam

si Kecil Amien Rais